Demonstrasi Kontekstual modul 3.1
Idris Hariri
CGP Angkatan 6 Kab Subang
SMPN 3 Subang
Demonstrasi Kontekstual
Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
Di pembelajaran Pendidikan Guru Penggerak modul 3.1 ini dipelajari tentang pengambilan keputusan seorang pemimpin yang berbasis nilai kebajikan sebagai pemimpin. Seorang Calon guru Penggerak yang dipersiapkan sebagai Kepala Sekolah kedepannya pasti akan menemukan suatu masalah yang harus diputuskan secara bijaksana. Keputusan tersebut haruslah berpihak kepada murid, mempunyai nilai kebajikan dan bertanggung jawab. Masalah-masalah yang dihadapi terkadang dua-duanya dalam posisi yang benar atau yang disebut dengan Dilema Etika, kemudian dalam posisi yang benar dengan posisi yang salah yang disebut dengan Bujukan Moral. Kedua masalah tersebut haruslah diputuskan dengan berprinsip Ends Based Thinking atau pemecahan berdasarkan dengan hasil akhir, Rule Based Thinking atau pemecahan masalah berdasarkan aturan dan Care Based Thinking atau pemecahan masalah berbasis rasa peduli. Ketiga prinsip itu berkaitan dengan paradigma masalahnya yaitu Individu lawan kelompok yang artinya kepentingan satu orang berbenturan dengan kepentingan orang banyak, Keadilan lawan rasa kasihan yang artinya peraturan yang sudah berlaku di sekolah berbenturan dengan perasaan empati kepada orang lain, Kebenaran lawan Kesetiaan yang artinya fakta yang seharusnya dilaksanakan berbenturan dengan rasa ingin melindungi ataupun kesetiaan, dan Jangka panjang lawan Jangka Pendek yang artinya pengambilan keputusan harus mengutamakan mana yang lebih utama dilaksanakan.
Berkenaan dengan modul 3.1 ini CGP ditugaskan untuk mewawancarai 2 atau 3 Kepala sekolah di lingkungannya untuk lebih mendalami pengambilan keputusan yang sesuai dengan fakta dilapangan. Saya mewawancarai 2 Kepala Sekolah, Yang pertama adala Bapak Aba Bachra, M.Pd sebagai Kepala Sekolah SMPN 3 Subang dimana saya bertugas dan Bu Risnawati, M.Pd Sebagai Kepala Sekolah SDN Pangipukan di Kecamatan Subang. Pertama saya mewawancarai Bu Risnawati pada hari Kamis Tanggal 9 Februari 2023 dan Bapak Aba Bachra Pada hari sesudahnya yaitu pada hari Jumat tanggal 10 Februari 2023.
Diawali dengan diskusi tentang pengambilan keputusan yang berkaitan dengan Dilema Etika (yang benar lawan yang benar) maupun Bujukan Moral (yang benar lawan yang salah), mereka sebenarnya belum mengetahui tentang prinsip maupun paradigma dalam mengambil keputusan. Namun setelah memaparkan pengambilan keputusan dari beberapa kasus yang terjadi. Kedua Kepala Sekolah ternyata sudah melaksanakan pengambilan keputusan dengan berdasar kepada prinsip maupun paradigma tersebut. Kemudian keputusan itu waktunya diambil menyesuiakan situasi dan kondisinya. Bu Risnawati, M.Pd mengambil contoh memaparkan salah satu kasus nya yaitu tentang guru yang meminta ijin meninggalkan kelas karena anaknya sakit. Disini terjadi dilema yang dirasakan oleh Bu Risnawati, M.Pd sebagai Kepala Sekolah dikarenakan jika beliau mengijinkan maka bagaimana kegiatan Belajar Mengajar murid- murid di kelasnya. Kalau tidak diizinkan bagaimana nasib anaknya yang sakit dirumah yang memerlukan kehadiran seorang ibu. Disini beliau melihat kedua sisi yang dua-duanya benar. Kemudian mempertimbangkan fakta-fakta yang terjadi beliau memutuskan untuk mengijinkan guru tersebut untuk ijin merawat anaknya dan meninggalkan kelas. Beliau memutuskan keputusan tersebut dengan prinsip Care Based Thinking karena rasa peduli dengan keadaan guru dan beliau menggunakan paradigma Keadilan lawan Kasih sayang. Beliau juga menggunakan langkah opsi trilemma dengan mengganti guru di kelas dalam melaksanakan KBM sehingga tidak merugikan murid dalam belajar dan tetap berpihak kepada mereka.
Wawancara yang kedua adalah dengan Bapak Aba Bachra M.Pd, beliau mengangkat kasus yang berkaitan dengan penunjukan tugas tambahan guru yang bertentangan dengan kebiasaan mereka dan yang biasa dilakukan Kepala Sekolah sebelumnya. Ada dilema disini antara memutuskan untuk memindahkan tugas tambahan seorang guru yang sudah nyaman di tempatnya dan merasa tidak sanggup melaksanakan tugas yang berbeda dengan merasa percaya bahwa guru tersebut mampu melaksanakan tugas yang lain yang dimana harapan kedepannya guru tersebut bisa menguasai semua masalah yang ada di sekolah. Dengan melihat nilai-nilai kebajikan dan fakta-fakta yang ada Bapak Aba Bachra sebagai Kepala sekolah banyak berdiskusi dengan guru yang lain yang dilihatnya bijak dalam memutuskan. Dengan intuisi yang kuat dari beliau akhirnya memutuskan untuk tetap menunjuk tugas tambahan guru dengan bergantian. Melihat keputusan Bapak Aba Bachra disini beliau menggunakan prinsip Rule Based Thinking yang melihat bahwa secara aturan tidak tertulis bahwa penunjukan tugas tambahan guru seharusnya bergantian tugas untuk supaya mereka bisa menguasai segala aspek yang ada di sekolah. Kemudian beliau juga menggunakan paradigma individu lawan kelompok dimana beliau sebagai kepala sekolah yang ingin melakukan perubahan melawan kebiasaan atau kenyamanan para guru.
Melihat pengambilan keputusan dua kepala sekolah tersebut, bisa disimpulkan bahwa keduanya berbeda dalam menggunakan paradigma dan prinsip dilema etika dan disebabkan mungkin dengan kasus yang berbeda yang dihadapi oleh kedua kepala sekolah tersebut. Namun kesamaannya bisa dilihat bahwa mereka berdua mengambil keputusan dengan mempertimbangkan fakta-fakta kebenaran yang ada kemudian berkonsultasi dengan orang lain. Walaupun tidak lengkap dalam melakukan 9 langkah pengambilan keputusan namun mereka sudah mengambil keputusan dengan paradigma dan prinsip dilema etika yang berpihak kepada murid, melihat nilai kebajikan dan bertanggung jawab kepada tugasnya. Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa apapun yang dilakukan seseorang itu hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia pada umumnya.
Demikianlah hasil wawancara saya dengan Bapak Aba Bachra, M.Pd dan Ibu Risnawati, M.Pd. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan tak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih kepada kedua orang kepala sekolah ini yang telah bersedia untuk diwawancarai seputar pengambilan keputusan seorang pemimpin khususnya sebagai Kepala Sekolah.
Kereeen.. Calon KS pilihan nih👍
ReplyDeleteHatur nuhun Bu guru hebat 🙏🏿👍
ReplyDeletePaparan yang disampaikan sudah baik, contoh kasus dijelaskan dengan gamblang. Maju terus Pak Idris. Salam guru penggerak!
ReplyDeleteTerimakasih bu, salam guru penggerak
ReplyDeleteKeren pak Idris, sudah dipaparkan dengan detail👍 Semangat terusss...Salam Guru Penggerak dari angkatan III!
DeleteSalam guru penggerak
DeleteYou did it!👍
ReplyDeleteThanks bestie
ReplyDeleteSemangat Calon Kepsek era perubahan..
ReplyDeleteThanks a lot teteh senior
Delete